Gambar Slide
Sabtu, 11 April 2020
Hidup Lebih Sehat dengan Makanan Yang Halal dan Baik
A. Pengertian Makanan Halal dan Baik
Makanan halal adalah makanan yang dibolehkan oleh agama dari segi hukumnya. Makanan yang halal hakikatnya adalah makanan yang didapat dan di olah dengan cara yang benar menurut agama.
Adapun makanan yang baik dapat dipertimbangkan dengan akal dan ukurannya untuk kesehatan. Artinya makanan yang baik adalah yang berguna dan tidak membahayakan bagi tubuh manusia dilihat dari sudut kesehatan. Maka, makanan yang baik lebih bersifat kondisional, tergantung situasi dan kondisi manusia yang bersangkutan.
B. Dalil Al Quran Q.S. Al-Baqarah: 168-169; Q.S.Al-Baqarah: 172-173; dan hadis tentang makanan yang halal dan baik.
168. Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
169. Sesungguhnya syaitan itu Hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.
172. Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.
173. Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108]. tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[108] Haram juga menurut ayat Ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.
C. Hadits Tentang Makanan Halal dan Baik
Hadits tentang makanan yang halal dan baik
عن ا بي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : مااكل احد طعاماقط خير من ان ياءكل من عمل يده وان نبي الله داودعليه السلام كا ن ياءكل من عمل يده . (رواه البخارى ومسلم)
Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw. bersabda; Tidak ada makanan yang dimakan seseorang yang lebih baik aripada hasil karya tangannya sendiri (hasil usahanya sendiri). Sesungguhnya Nabi Daud s.a. selalu makan dari hasil karya tangannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
D. kandungan Q.S. Al-Baqarah: 168-169; Q.S. Al-Baqarah: 172-173; dan hadis tentang makanan yang baik dan baik.
1. Q.S. Al-Baqarah ayat 168-169
Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar memakan makanan yang halal dan melarang kita untuk memakan mkanan yang haram. Makanan yang halal adalah makanan yang dihalalkan oleh Allah SWT atau rasul-Nya, baik yang twrcantum dalam Al Qur’an maupun hadis. Makanan yang haram adalah makanan yang diharamkan oleh Al Qur’an dan hadis. Makanan yang sehat adalah makanan yang sehat dan mengandung gizi yang dibutuhkan tubuh.
2. Q.S. Al-Baqarah ayat 172-173
Ayat ini menganjurkan kaum muslimin yang beriman agar memakan makanan yang halal lagi baik dan bergizi. Banyak makanan yang telah disediakan Allah SWT di muka bumi ini, namun bagi umat islam tidak semua jenis makanan boleh dinikmati, melainkan hanya makanan yang dihalalkan oelh Allah SWT yang sudah pasti mengandung kebaikan dan kemaslahatan bagi kehidupan manusia
3. Hadis tentang makanan yang halal dan baik.
Hadis ini menganjurkan untuk bekerja keras dalam mencari rizki yang halal, sebab kenikmatan sesuatu terletak pada cara mendapatkannya. Jika suatu rizki itu didapatkan dengan mudah, niscaya ketika memakannya terasa kurang nikmat, sedangkan jika diperolehnya dengan susah payah dan penuh pengorbanan, maka akan mendatangkan kenikmatan tersendiri.
E. perilaku orang yang mengamalkan Q.S. Al-Baqarah: 168-169; Q.S. Al-Baqarah: 172-173; dan hadis tentang makanan yang halal dan baik.
1. Q.S. Al-Baqarah ayat 168-169
Orang yang mengamalkan isi kandungan ayat tersebut,dalam dirinya terdapat sikap perilaku terpuji, antara lain:
a. Selalu memilih makanan secara selektif agar mendapatkan makanan dan nimunan yang halal.
b. Selalu berusaha dengan cara-cara yang halal dalam mendapatkan makanan dan minuman, sehingga merasa yakin dalam hati bahwa makanan tersebut benar-benar halal.
2. Q.S. Al-Baqarah ayat 172-173
Orang yang mengamalkan isi kandungan ayat tersebut, dalam dirinya terdapat sikap perilaku terpuji, antara lain:
a. Selalu menjaga diri dari makanan yang diharamkan oleh Allah SWT, sehingga terhindar dari ancaman dan malapetaka yang diakibatkan oleh makanan haram tersebut.
b. Selalu bersikap waspada terhadap makanan dan minuman yang belum diketahui status hukum dan jenisnya.
3. Hadis tentang makanan yang halal dan baik.
Orang yang mengamalkan isi kandungan hadis tersebut, dalam dirinya terdapat sikap perilaku terpuji, antara lain:
· Rajin bekerja dan berusaha.
· Tidak bergantung kepadaan belas kasih orang lain.
· Mengutamakan pekerjaan yang baik dan halal.
F. Mengidentifikasi makanan yang halal dan baik seperti terkandung dalam Q.S. Al-Baqarah: 168-169; Q.S. Al-Baqarah: 172-173 dan hadis tentang makanan yang halal dan baik.
1. Q.S. Al-Baqarah ayat 168-169
Para ulamA membagi status halal itu kepada dua kategori, yaitu:
a. Halal hukumnya, ialah cara memperoleh makanan atau minuman tersebut sesuai dengan perintah agama, dan tidak melanggar aturan dan ketentuan yang ditetapkan syari’at islam.
b. Halah jenisnya, ialah jenis makanan tersebut tidak diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya, atau tidak mengandung zat dan atau benda yang diharamkan oleh Allah SWT.
Selain itu, makanan yang halal jguga ada dua,yaitu makanan yang halal lagi baik (tayiba) dan makanan yang halal tapi tidak baik.
2. Q.S. Al-Baqarah ayat 172-173
Jenis-jenis makanan yang tidak halal (haram) lagi tidak baik bagi manusia,seperti yang terkandung dalam ayat diatas,yaitu:
a. Bangkai; segal jenis bangkai adalah haram dan tidak boleh dimakan.
b. Darah atau marus; segala jenis darah, baik darahb manusiamaupun binatang adalah haram.
3. Hadis tentang makanan halal dan baik.
Berdasarkan hadis diatas, ada beberapa makanan dan minuman yang termasuk kategori halal:
a. Makanan yang sudah jelas halal hukum dan jenisnya.
b. Makanan yang diperoleh dari hasil usaha yang sah dan halal.
c. Makanan yang diperoleh dari hasil usaha tangan sendiri.
d. Makanan yang diperoleh dari hasil usahah yang diberkahi oleh Allah SWT.
G. Menerapkan kandungan Q.S. Al-Baqarah: 168-169; Q.S. Al-Baqarah: 172173 dan hadis tentang makanan yang halal dan baik dalam kehidupan sehari-hari.
1. Q.S. Al-Baqarah ayat 168-169
Untuk dapat menerapkan isi kandungan ayat diatas dalam kehidupan, hendaknya perhatikan beberapa hal berikut:
a. Tanamkan keimanan yang kuat agar tidak mudah tergoda oleh bujuk rayu setan, yang selalu membujuk dan merayu agar manusia mengikuti jalannya yang sesat.
b. Yakinkan dalam hati bahwa makanan yang halal itu menagandung kebaikan bagi kehidupan manusia.
2. Q.S. Al-Baqarah ayat 172-173
Untuk dapat menerapkan isi kandungan ayat diatas dalam,hendaknya perhatikan beberapa hal berikut:
a. Tanamkan keyakinan bahwa memakan makanan halal itu sama dengan ibadah dan mengandung berkah bagi kehidupan baik di dunia maupun di akhirat.
b. Biasakan makan dan minum dengan niat ibadah karena Allah, agar apa yang kita lakukan senantiasa mendapat berkah darinya.
3. Hadis tentang makanan halal dan baik.
Untuk dapat menerapkan isi kandungan hadis diatas dalam kehidupan, hendaknya perhatikan beberapa hal berikut:
a. Buang sifat malas dan manja dalam kehidupan, sebab kemalasan dan kemanjaan hanya akan mendatangkan kerugian dan penyesalan pada kemudian hari,\.
b. Tumbuhkan semangat kerja dan berusaha mencari nafkah, agar hidup tidak bergantung kepada belas kasih orang lain.
H. Manfaat Makanan Halal
Perintah Allah untuk mengkonsumsi makanan yang halal tentu bermanfaat bagi pelakunya antara lain:
1) Makanan yang halal dapat menyehatkan badan dan terpeliharanya diri dari sumber rizki.
2) Menyebabkan amal ibadah diterima Allah
3) Dapat menghindarkan diri dari perbuatan dosa
4) Termasuk golongan orang sholeh dan berakhlak mulia.
Kita harus selalu ingat bahwa begitu penting artinya makanan bagi manusia, oleh karena itu sudah semestinya mereka selektif dalam memilih setiap makanan. Kalau tidak makan justru dapat mengganggu kesehatan. Tubuh manusia membutuhkan makanan yang sehat / baik. Makanan dikatakan sehat / baik apalagi memenuhi syarat sebagai berikut:
1) Makanan harus bersifat higienis yaitu tidak mengandung kuman penyakit
2) Makanan mudah dicerna oleh alat – alat pencernaan.
Senin, 06 April 2020
Unsur-unsur dalam Hadits
Unsur Unsur Hadits (Rawi Sanad dan Matan)
Tuesday, 22 October 2019 Add Comment
unsur unsur hadits
ESENSI HADIS
(Rawi, Sanad dan Matan)
A. STANDAR KOMPETENSI
Memberikan pemahaman kepada mahasiswa tertang esensi hadis yaitu; sanad, matan dan rawi hadis. Mahasiswa dapat memahami unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah hadis meliputi sanad, matan dan rawi.
B. SAJIAN MATERI
Secara stuktur, Hadis terdiri atas tiga unsur utama yakni rawi, sanad dan matan (redaksi). Sebagai contoh Hadis berikut :
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya[1].
a. Rawi
Rawi[2] bentuk jama dari kata ruwat yang berarti orang yang meriwayatkan[3]. Selain meriwayatkan Hadis seorang rawi berpungsi sebagai penerima, penyampai dan pemelihara Hadis. Sedangkan menurut istilah adalah orang yang menerima Hadis dan menyampaikannya dengan salah satu bahasa penyampaian (shaghat al-ada).[4] Menyampaikan Hadis dari seorang guru kepada orang lain, atau menuliskan dan mendiwankannya pada suatu kitab. Seorang rawi tidak cukup hanya menerima dan menyampaikan Hadis, rawi harus dapat memelihara Hadis.
Pada Hadis yang diriwayatkan di atas, maka para rawi yang meriwayatkan Hadis tersebut adalah:
(1) Abu Hurairah (2) AL-Araj (3) Abu al-Zinad (4) Syu’aib (5) Abu al-Yaman (6) Bukhari
Bukhari selain rawi terakhir, juga disebut sebagai mukharij atau mudawwin, yaitu orang yang telah mencatat Hadis tersebut pada kitab Hadisnya yang bernama al-Jâmi al-Shahih.
b. Sanad
Sanad menurut bahasa berarti penopang, sesuatu yang dibuat sandaran, atau biasa juga berarti lereng bukit.[5] Sedangkan menurut istilah sanad adalah sandaran perawi mulai dari mudawin sampai kepada rawi yang meriwayatkan Hadis. Menurut Nuruddin ‘Itr sanad adalah rangkaian mata rantai para rawi yang meriwayatkan Hadis dari yang satu kapada yang lain sampai kepada sumbernya.
سلسلة الرواة الذين نقلوا الحديث واحدا عن الاخر حتى يبلغوا الى قائله[6]
Sebagai jalur penyampai/ periwayat Hadis, sanad terdiri atas seluruh periwayat mulai dari orang yang mencatat Hadis tersebut dalam bukunya (kitab Hadis) hingga mencapai Rasulullah SAW. Sanad, memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Jadi dalam teks Hadis riwayat Bukhari di atas yang disebut dengan sanad adalah deretan kata-kata :
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
Dengan demikian, tersebut adalah:
(1) Bukhari (2) Abu al-Yaman (3) Syu’aib (4) Abu al-Zinad (5) Al-’Araj (6) Abu Hurairah .
c. Matan
Matan secara bahasa berarti punggung atau tanah tinggi yang keras.[7] Sedangkan menurut istilah matan adalah isi yang terkandung dalam hadis. Berita yang berupa perkataan, perbuatan, taqrir atau hal ihwal Nabi SAW yang terletak setelah sanad berakhir. Dari contoh Hadis sebelumnya maka matan Hadis bersangkutan adalah:
فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِ
"Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya”
Ulama ahli Hadis telah melakukan pengkajian terhadap Hadis dari berbagia aspek untuk mengetahui matan yang dapat dinisbatkan kepada pembicara/ sumbernya dan matan mana yang tidak. Hal tersebut berhubungan dengan dapat atau tidaknya Hadis tersebut diteriman dan diamalkan.
Terkait dengan matan, maka yang perlu dicermati dalam memehami Hadis ialah:
1) Asal sanad sumber redaksi, apakah dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW Atau bukan.
2) Matan Hadis itu sendiri dalam hubungannya dengan Hadis lain yang lebih kuat sanadnya (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan selanjutnya dengan ayat dalam Al-Qur’an (apakah ada yang bertolak belakang).
Sabtu, 04 April 2020
Membangun Etos Kerja Pribadi Muslim
Etos berasal dari bahasa Yunani yang berarti sesuatu yang diyakini, cara berbuat, sikap serta persepsi terhadap nilai bekerja. Sedangkan etos kerja Muslim dapat didefinisikan sebagai cara pandang yang diyakini seorang muslim bahwa bekerja tidak hanya bertujuan memuliakan diri, tetapi juga sebagai suatu manifestasi dari amal sholeh dan mempunyai nilai ibadah yang luhur. Etos Kerja merupakan totalitas kepribadian diri serta cara mengekspresikan, memandang, meyakini, dan memberikan sesuatu yang bermakna, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal (high performance) Ayat Al-Qur'an Tentang Etos Kerja. 1. Al-Qur'an Surat Al-Qashash: 77.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“ dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77) Kandungan Qur'an Surat Al-Qashash ayat 77. Allah Swt memerintahkan manusia bekerja dan berusaha untuk kepentingan urusan duniawi dan ukhrawi secara seimbang. Tidak boleh orang mengejar duniawinya saja, dan melupakan akhiratnya. Begitu juga sebaliknya. Keduanya hendaknya berjalan dan diperhatikan secara seimbang. Al-Qur’an mengajarkan manusia akan pentingnya memiliki kearifan equilibrium, yakni kearifan untuk menciptakan keseimbangan dalam dirinya dan kehidupannya, berupa keseimbangan intelektual dan hati nuraninya, jasmani dan rohaniah, serta keseimbangan dunia dan akhiratnya. Bahkan keseimbangan itu pun ditunjukkan oleh Allah Swt melalui penyebutan kosa kata antara ad-dunya dan al-akhirah, masingmasing disebut dalam al-Qur’an sebanyak 115 kali. Pada ayat di atas kata al-akhirah (akhirat) disebut lebih dulu, baru kemudian menyebut kata ad-dunya. Hikmahnya bahwa manusia ada kecenderungan kuat sibuk berusaha hanya untuk memenuhi kebutuhan duniawinya. Terkadang untuk urusan duniawi ia menghalalkan segala cara, padahal kehidupan dunia bersifat sementara. Sedangkan kehidupan akhirat bersifat langgeng/kekal. Maka manusia dipesan bahwa kalau bekerja keras untuk kepentingan ukhrawi, dengan sendirinya urusan duniawinya juga didapat. Untuk itu ayat ini menggarisbawahi pentingnya mengarahkan pandangan kepada akhirat sebagai tujuan dan kepada dunia sebagai sarana mencapai tujuan. 2. Al-Qur'an Surat Al-Jumu'ah ayat 9-11.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ "9.
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. 10. apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. 11. dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisiAllah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik pemberi rezki." (QS. Al-Jumu’ah: 9-11) Kandungan QS. Al-Jumu’ah: 9-11. Allah Swt telah memilih hari Jum’at sebagai hari besar untuk peribadatan bagi kaum Muslimin karena pada hari ini Dia telah menyempurnakan penciptaan mahluk-Nya. Panggilan untuk melaksanakan shalat jumat sangat tegas, bahkan seseorang yang sedang berniagapun harus menghentikan aktifitas perniagaanya dan bersegera memenuhi panggilan muadzin untuk melaksanakan ibadah shalat jum’at. Bukan mengabaikan seruan muadzin dan memilih kesesatan seperti kaum Yahudi yang lebih memilih hari Sabtu sebagai hari besar peribadatan mereka, dan juga kaum Nasrani yang memilih hari Minggu sebagai hari ibadah mereka. Menunaikan ibadah shalat jum’at merupakan kewajiban bagi laki-laki mukmin mukalaf. Panggilan untuk melaksanakan shalat jumat petunjuk ayatnya sangat tegas. Bahkan orang yang sedang berniagapun harus ditinggalkan dan bersegera memenugi panggilan muadzin dan meninggalkan semua pekerjaannya untuk segera shalat juma’at. Al-Qur’an secara tegas memberi dorongan kepada umat Islam agar memiliki etos kerja tinggi, untuk tampil sebagai pekerja keras dan berprestasi. Untuk menggapai keberuntungan hidup, tidaklah hanya cukup tenggelam dalam masalah ritual formal (ibadah mahdhah). Tetapi hendaknya dimanifestaasikan dalam ibadah aktual. 3. Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 105. وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. At-Taubah : 105) Hadits Tentang Etos Kerja. حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ بَحِيرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيكَرِبَ الزُّبَيْدِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا كَسَبَ الرَّجُلُ كَسْبًا أَطْيَبَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَمَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَخَادِمِهِ فَهُوَ صَدَقَةٌ "Telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin Ammar] berkata, telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin 'Ayyasy] dari [Bahir bin Sa'd] dari [Khalid bin Ma'dan] dari [Al Miqdam bin Ma'dikarib Az Zubaidi] dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak ada yang lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali dari hasil tangannya sendiri. Dan apa-apa yang diinfakkan oleh seorang laki-laki kepada diri, isteri, anak dan pembantunya adalah sedekah." (HR. Ibnu Majah). Penjelasan Hadits. Hadits di atas merupakan motivasi dari Nabi Saw kepada kaum muslimin untuk me- miliki etos kerja yang tinggi. Kita dilarang oleh Nabi Saw hanya bertopang dagu dan berpangku tangan mengharap rezeki datang dari langit. Kita harus giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarga. Bahkan dikatakan oleh Nabi Saw bahwa tidak ada yang lebih baik dari usaha seseorang kecuali hasi kerjanya sendiri. Hal ini tentunya juga bukan sembarang kerja tetapi pekerjaan yang halal dan tidak bertentangan deng syari’at agama Islam. Nilai mulia bukan hanya dari sisi memerolehnya saja, membelanjakannyapun untuk anak, istri, dan pembantu dinilai sedekah oleh Allah. Betapa luhur ajaran Islam yang mendukung betul bagi para pemeluknya untuk giat bekerja. Dalam hadis lain Nabi pernah mengajarkan kepada kita sebuah do’a yang sangat indah sekaligus memotivasi kita untuk memiliki etos kerja yang tinggi, sebagai berikut: حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ Telah menceritakan kepada kami Anas bin Mālik dia berkata; “Rasūlullah pernah berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, rasa takut, kepikunan, dan kekikiran. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian” (HR. Muslim). Hadits di atas jelas menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan pada pentingnya bekerja keras serta sangat tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi pemalas, lemah, apalagi menjadi peminta-minta sebagaimana hadits Nabi Saw: عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ أَحْبُلَهُ فَيَأْتِيَ الْجَبَلَ فَيَجِئَ بِحُزْمَةِ حَطَبٍ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا فَيَسْتَغْنِيَ بِثَمَنِهَا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ Dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari Kakeknya ia berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Sekiranya salah seorang dari kalian mengambil tali dan membawanya ke gunung, lalu ia datang dengan membawa satu ikat kayu di atas punggungnya, kemudian menjualnya hingga dapat memenuhi kebutuhannya adalah lebih baik daripada meminta-minta manusia, baik mereka memberi ataupun tidak” (HR. Ibnu Majah).
Langganan:
Postingan (Atom)
Praktik Baik "Pemanfaatan Portal Rumah Belajar dalam Inovasi Pembelajaran pada Tatap Muka Terbatas"
Pandemi masih melanda Negeri ini, Dunia Pendidikan ikut mendapat imbasnya. Sejah awal tahun 2020 Pembelajaran Tatap Muka berubah menjadi Pem...
-
Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah SURGA. Di dalamnya terdapat bejana-bejana d...
-
Ibadah haji merupakan ibadah fisik, namun demikian banyak makna baik yang tersirat maupun yang tersurat yang bisa kita ambil dalam pelaksana...
-
SELEKSI BEASISWA DAN NON BEASISWA PROGRAM S1 UNIV. AFRIKA INTERNASIONAL SUDAN DAN UNIV. AL-AZHAR MESIR TAHUN AKADEMIK 2012-2013 A. Lat...