Selamat Datang di Blog Pribadi Abdurahman "Semoga Bermanfaat"

Gambar Slide

Rabu, 28 Juli 2010

Teladan dari `the single parent' Siti Hajar

Sekalipun musim haji telah lewat, tak ada salahnya kita mengupas kembali sejarah perjuangan Siti Hajar, salah seorang pelaku utama drama pengorbanan yang ditapaktilasi jutaan manusia setiap tahun. Karena perjuangannya, wanita sederhana ini mendapat kemuliaan yang teramat tinggi di sisi Allah Swt, dengan keberadaan air Zam-zam yang berkhasiat maupun dijadikannya sa'i sebagai rukun haji.

Sungguh, ini adalah penghargaan yang tiada tara bagi seorang wanita. Layaklah bila kita penasaran dibuatnya. Selain mengenangnya melalui prosesi ibadah haji, apa lagi keteladanan yang bisa kita petik dari kepribadian Siti Hajar?

1. Keyakinan akan pertolongan Allah

Ketika Ibrahim mengajak Hajar pergi dari rumah bersama bayi mereka Ismail, Hajar belum mengetahui tujuan kepergian itu. Semuanya baru menjadi jelas setelah mereka sampai di tengah-tengah gurun pasir tandus dan Ibrahim menurunkan Hajar dan Ismail dari untanya. Di bawah terik sinar matahari yang panas menyengat, di antara pasir dan batu seluas mata memandang, wanita mana yang tak takut ditinggal sendirian di sana? Bukankah ini sama artinya dengan bunuh diri? Sangat manusiawi, jika kemudian Hajar bertanya, “Apakah ini perintah Allah?” Nabi Ibrahim as pun mengangguk dan membenarkannya.

Melihat anggukan kepala suaminya, barulah hati Hajar merasa tenang. Jika itu perintah Allah, ia yakin diri dan bayinya akan selamat. Ia yakin bahwa pertolongan Allah akan segera datang menyelamatkan mereka. Maka tanpa banyak bertanya lagi, ia pun melepas suaminya pergi.

Sendiri di tengah padang pasir tak berpenghuni, secara rasional tak mungkin akan menyelamatkan hidup seorang wanita lemah bersama bayinya. Namun, tak peduli betapa kecilnya kemungkinan itu, Hajar tetap optimis. Keyakinan yang amat kuat itu membuatnya tidak emosional, dan mampu berpikir jernih untuk mencari tempat perlindungan sekadarnya.

2. Pantang putus asa

Bekal makanan dan minuman telah habis, belum ada sesuatu yang terjadi. Pertolongan Allah belum datang. Namun Hajar belum putus harapan. Berbekal keyakinan yang kuat akan datangnya pertolongan Allah suatu waktu nanti, ia merasa harus berusaha berbuat sesuatu.

Mencari air? Rasanya mustahil. Namun, karena Hajar tak melihat alternatif usaha lain yang lebih baik, maka ia berdiri untuk mulai mencari air. Beberapa kali ia terkecoh oleh fatamorgana sehingga ia bolak-balik menaiki bukit Shafa dan Marwa hingga tujuh kali. Jika Hajar hanya berniat mencari air, mungkin ia telah lama berhenti berlari dari bukit ke bukit, karena tahu di sana tak ada air. Ia faham bahwa yang ia lihat hanya fatamorgana.

Tetapi yang dicari Hajar adalah pertolongan Allah, yang itu bisa berupa air, atau mungkin dalam bentuk yang lain. Sekali lagi karena tak ada alternatif yang lebih baik untuk bisa dilakukan kecuali berlari mencari air, maka terpaksa pekerjaan ini yang terus ia lakukan. Hebatnya, Hajar tetap belum berputus asa dalam hitungan langkahnya yang sudah ke angka puluhan kilometer itu. Dan Allah menghadiahi usaha kerasnya itu dengan satu mukjizat, air Zam-zam! Andaikan Hajar hanya duduk bersimpuh di samping bayinya sambil merintih dan berdoa, belum tentu air Zam-zam akan dihadiahkan Allah kepadanya.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah tekad kita untuk berusaha sekuat dan setegar Hajar, yang tiada putus asa walaupun harapan hidupnya hanya 0,01%? Hajar yang terus berbuat sesuatu walaupun secara logika tak akan ada hasilnya?

3. Taat, tak banyak protes

Perintah Allah yang aneh kepada suaminya untuk mengasingkan dirinya, sama sekali tak membuat Hajar mengingkari keimanannya kepada Allah Swt. Tak sempat terlintas prasangka-prasangka buruk terhadap Allah. Dengan ikhlas ia terima perintah Allah, dan ia pun merasa tak perlu bertanya lebih banyak kepada Nabi Ibrahim as, apalagi untuk menentangnya.

Ketaatan kepada Allah telah ia letakkan lebih tinggi di atas segalanya, bahkan lebih tinggi daripada kecintaan kepada kehidupannya sendiri.

4. Ibu sekaligus ayah yang berhasil

Setelah meninggalkan istri dan anaknya di tengah padang pasir tak berpenghuni, Ibrahim tak lagi pernah ke sana untuk menengok mereka, apalagi untuk turut mendidik Ismail, anaknya. Ibrahim as hanya kembali ke tempat tersebut bertahun-tahun kemudian, ketika di tempat dahulu ia menurunkan Hajar telah terbangun perkampungan Makkah dengan air Zam-zam sebagai urat nadi kehidupannya.

Saat itulah pertama kali Ibrahim bertemu kembali dengan Ismail yang telah mulai menginjak dewasa. Sekian lamanya ibunda Hajar telah membanting tulang menghidupi dan mendidik anak ini dengan tangannya sendiri. Untuk sekian lamanya Hajar telah berhasil berperan sebagai the single parent (orang tua tunggal).

Keberhasilan Hajar mendidik Ismail menjadi anak shalih tampak jelas dalam bentuk kepribadian Ismail yang amat luhur. Ismail berakhlaq baik dan sangat menghormati ayahandanya yang belum pernah ia temui sebelumnya. Dan terbukti, Ismail menunjukkan keutamaan imannya ketika ia dengan ikhlas mengiyakan permintaan Ibrahim yang diperintah Allah Swt untuk menyembelihnya.

Tak ada riwayat yang mengisahkan bagaimana cara Hajar mendidik anaknya ini sehingga bisa membentuk kepribadian unggul seperti ini. Namun setidaknya kita bisa meneladani bahwa keyakinan Hajar akan datangnya pertolongan Allah, usaha keras, serta ketaatannyalah yang telah banyak berperan dalam hal ini.

MANFAAT WUDHU'

''Sungguh ummat-Ku akan diseru pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhunya.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Selain memiliki banyak keutamaan, wudhu ternyata sangat bermanfaat terhadap kesehatan. Dr Ahmad Syauqy Ibrahim, peneliti bidang penderita penyakit dalam dan penyakit jantung di London mengatakan, ''Para Pakar sampai pada kesimpulan mencelupkan anggota tubuh ke dalam air akan mengembalikan tubuh yang lemah menjadi kuat, mengurangi kekejangan pada syaraf dan otot, menormalkan detak jantung, kecemasan, dan insomnia (susah tidur).''

Dalam buku Al-I'jaaz Al-Ilmiy fii Al-Islam wa Al-Sunnah Al-Nabawiyah dijelaskan, ilmu kontemporer menetapkan setelah melalui eksperimen panjang, ternyata orang yang selalu berwudhu mayoritas hidung mereka lebih bersih, tidak terdapat berbagai mikroba.

Rongga hidung bisa mengantarkan berbagai penyakit. Dari hidung, kuman masuk ke tenggorokan dan terjadilah berbagai radang dan penyakit. Apalagi jika sampai masuk ke dalam aliran darah. Barangkali inilah hikmah dianjurkannya istinsyaaq (memasukkan air ke dalam hidung) sebanyak tiga kali kemudian menyemburkannya setiap kali wudhu.

Ada pun berkumur-kumur dimaksudkan untuk menjaga kebersihan mulut dan kerongkongan dari peradangan dan pembusukan pada gusi. Berkumur menjaga gigi dari sisa-sisa makanan yang menempel. Sementara membasuh wajah dan kedua tangan sampai siku, serta kedua kaki memberi manfaat menghilangkan debu-debu dan berbagai bakteri. Apalagi dengan membersihkan badan dari keringat dan kotoran lainnya yang keluar melalui kulit. Dan juga, sudah terbukti secara ilmiah penyakit tidak akan menyerang kulit manusia kecuali apabila kadar kebersihan kulitnya rendah.

Dari segi rohani, wudhu menggugurkan 'daki-daki' yang menutupi pahala. Bersama air wudhu, dosa-dosa kita dibersihkan, sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ''Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu, tatkala ia membasuh wajahnya keluarlah dari wajahnya seluruh dosa yang dilakukan matanya bersamaan dengan air itu atau dengan tetesan terakhirnya.

Apabila dia membasuh dua tangannya maka akan keluar seluruh dosa yang dilakukan tangannya bersamaan dengan air itu atau tetesan air yang terakhir. Apabila dia membasuh dua kakinya maka keluarlah seluruh dosa yang telah dilangkahkan oleh kakinya bersama air atau tetesannya yang terakhir sehingga dia selesai wudhu dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.'' (HR Muslim) Maka, berbahagialah orang-orang yang selalu menjaga wudhunya dan menjaga hatinya tetap suci.

PERINGATAN ISRA' MI'RAJ


Dalam rangka memperingati isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW tahun 1431 H/2010 M, OSIS SMA Negeri 1 Muko-Muko Bathin VII menggelar acara perlombaan keagamaan tingkat SMAN 1 Muko-Muko Bathin VII. Dalam kegiatan tersebut ada beberapa cabang perlombaan, yaitu ceramah agama, MTQ, dan adzan. Kegiatan ini disambut baik oleh para siswa, sehingga banyak siswa/i yang mengikutinya.
Kegiatan ini bertujuan untuk membangkitkan bakat dan kemampuan para siswa, sehingga nantinya ketika ada event-event tertentu tidak susah-susah mencari siswa untuk diikutkan dalam kegiatan tersebut.
Dalam lomba ceramah yang menjadi pemenang pertama adalah Al-Adiyat siswa kelas X A, dengan menampilkan ceramah yang menarik dan disertai lelucon-lelucon yang dapat membuat para pendengar tertawa girang. Disamping itu juga ceramah yang tampil bukan hanya ceramah berbahasa Indonesia tapi ada juga yang berbahasa inggris. MTQ yang di menangkan oleh Ruhani siswa kelas X B dan adzan dimenangkan oleh Budi Setiawan siswa kelas XI IPA.
Dengan melihat semangat dan antusias para siswa dengan kegiatan seperti ini, maka pembina OSIS SMAN 1 Muko-Muko Bathin VII Abdurahman, S.Pd.I bersama para pengurus berencana akan mengadakan lomba-lomba lainnya pada setiap peringatan-peringatan hari besar baik peringatan hari besar keagamaan maupun hari besar nasional yang seiring dengan program OSIS.
Semua ini dapat berjalan dengan baik berkat adanya dukungan dari berbagai pihak, seperti Kepala Sekolah, para guru, pengurus OSIS yang bekerja keras dan seluruh siswa-siswi SMAN 1 Muko-Muko Bathin VII.
Dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti itu diharapkan akan meningkatnya prestasi SMAN 1 Muko-Muko Bathin VII di mata masyarakat baik di tingkat kecamatan, Kabupaten, Provinsi bahkan Nasional sekalipun.

Kamis, 22 Juli 2010

MEMBIASAKAN PERILAKU TERPUJI (TAUBAT dan RAJA’)

Taubat
A. Pengertian taubat
Yang dimaksud dengan taubat masa sekarang: meninggalkan secara langsung dosa yang sedang dilakukan. Adapun taubat masa yang akan datang: bertekad untuk tidak melakukan kembali .
Taubat ada tiga macam: Taubat umum ('Am), taubat khusus Khâsh, dan taubat paling khusus (khawwâshul khawwâsh).
Taubat umum adalah taubat dari maksiat, yaitu taubat orang-orang yang bermaksiat.
Taubat khusus adalah taubat dari taubat umum, taubat ini adalah taubatnya para Nabi terdahulu.
Taubat paling khusus adalah taubat dari perhatian terhadap selain Allah swt, ini adalah taubatnya Rasulullah saw dan Ahlul bait (sa). Jadi taubat mereka adalah kembali kepada Allah dari pandangan kepada selain Allah. Istilah taubat ini dikenal di kalangan ahli suluk.

B. Syarat-syarat taubat
1. Menyesal atas segala perbuatan dosa yang pernah dilakukan.
2. Mensucikan din dan perbuatan maksiat yang sudah dilakukan. Kerana tidak ada ertinya bertaubat jika dosa masih terus dikerjakan.
3. Bertekad dengan sungguh-sungguh bahawa tidak akan mengulanginya lagi, selama hayat dikandung badan, sampai mengucapkan selamat tinggal pada dunia yang fana ini.

Syarat diterimanya taubat yaitu:
1. Ikhlas. Artinya, taubat pelaku dosa harus ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena lainnya.
2. Menyesali dosa yang telah diperbuatnya.
3. Meninggalkan sama sekali maksiat yang telah dilakukannya.
4. Tidak mengulangi. Artinya, seorang muslim harus bertekad tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.
5. Istighfar. Yaitu memohon ampun kepada Allah atas dosa yang dilakukan terhadap hakNya.
6. Memenuhi hak bagi orang-orang yang berhak, atau mereka melepaskan haknya tersebut.
7. Waktu diterimanya taubat itu dilakukan di saat hidupnya, sebelum tiba ajalnya. Sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam : “Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hambaNya selama belum tercabut nyawanya.” (HR. At-Tirmidzi, hasan).
C. Contoh perilaku taubat
Diantara contoh dan tanda orang yang bertaubat adalah : Lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu disebabkan takut terjerumus lagi ke dalam dosa. Selain itu orang yang bertaubat akan lebih giat beramal karena merasa khawatir dosanya belum diampuni oleh Allah Swt.

D. Membiasakan taubat dalam kehidupan sehari-hari
Taubat itu dilakukan setiap kita melakukan dosa, akan tetapi tentunya dosa yang berbeda. Bahkan kita harus bertaubat kepada Allah setiap saat karena mungkin saja ada dosa yang tidak terasa kita lakukan sehingga memerlukan pembersihan atau taubat.

Raja’
A. Pengertian raja’
Roja' berarti mengharapkan sesuatu dari Allah swt. Ketika berdo’a maka kita harus penuh harap bahwa do’a kita akan dikabul oleh Allah Swt.

1. Peranan roja'
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: "Ketahuilah sesungguhnya penggerak hati menuju Allah 'azza wa jalla ada tiga: Al-Mahabbah (cinta), Al-Khauf (takut) dan Ar-Rajaa' (harap). Yang terkuat di antara ketiganya adalah mahabbah. Sebab rasa cinta itulah yang menjadi tujuan sebenarnya. Hal itu dikarenakan kecintaan adalah sesuatu yang diharapkan terus ada ketika di dunia maupun di akhirat. Berbeda dengan takut. Rasa takut itu nanti akan lenyap di akhirat (bagi orang yang masuk surga, pent). Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut dan sedih yang akan menyertai mereka." (QS. Yunus: 62) Sedangkan rasa takut yang diharapkan adalah yang bisa menahan dan mencegah supaya (hamba) tidak melenceng dari jalan kebenaran. Adapun rasa cinta, maka itulah faktor yang akan menjaga diri seorang hamba untuk tetap berjalan menuju sosok yang dicintai-Nya. Langkahnya untuk terus maju meniti jalan itu tergantung pada kuat-lemahnya rasa cinta.
2. Roja' yang terpuji
Syaikh Al 'Utsaimin berkata: "Ketahuilah, roja' yang terpuji hanya ada pada diri orang yang beramal taat kepada Allah dan berharap pahala-Nya atau bertaubat dari kemaksiatannya dan berharap taubatnya diterima, adapun roja' tanpa disertai amalan adalah roja' yang palsu, angan-angan belaka dan tercela." (Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 58)
3. Roja' adalah ibadah
Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Orang-orang yang diseru oleh mereka itu justru mencari jalan perantara menuju Rabb mereka siapakah di antara mereka yang bisa menjadi orang paling dekat kepada-Nya, mereka mengharapkan rahmat-Nya dan merasa takut dari siksa-Nya." (QS. al-Israa': 57) Allah menceritakan kepada kita melalui ayat yang mulia ini bahwa sesembahan yang dipuja selain Allah oleh kaum musyrikin yaitu para malaikat dan orang-orang shalih mereka sendiri mencari kedekatan diri kepada Allah dengan melakukan ketaatan dan ibadah, mereka melaksanakan perintah-perintah-Nya dengan diiringi harapan terhadap rahmat-Nya dan mereka menjauhi larangan-larangan-Nya dengan diiringi rasa takut tertimpa azab-Nya karena setiap orang yang beriman tentu akan merasa khawatir dan takut tertimpa hukuman-Nya
4. Roja' yang disertai dengan ketundukan dan perendahan diri
Syaikh Al 'Utsaimin rahimahullah berkata: "Roja' yang disertai dengan perendahan diri dan ketundukan tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah 'azza wa jalla. Memalingkan roja' semacam ini kepada selain Allah adalah kesyirikan, bisa jadi syirik ashghar dan bisa jadi syirik akbar tergantung pada isi hati orang yang berharap itu..." (Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 58)
5. Mengendalikan roja'
Sebagian ulama berpendapat: "Seyogyanya harapan lebih didominasikan tatkala berbuat ketaatan dan didominasikan takut ketika muncul keinginan berbuat maksiat." Karena apabila dia berbuat taat maka itu berarti dia telah melakukan penyebab tumbuhnya prasangka baik (kepada Allah) maka hendaknya dia mendominasikan harap yaitu agar amalnya diterima. Dan apabila dia bertekad untuk bermaksiat maka hendaknya ia mendominasikan rasa takut agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat.

Sebagian yang lain mengatakan: "Hendaknya orang yang sehat memperbesar rasa takutnya sedangkan orang yang sedang sakit memperbesar rasa harap." Sebabnya adalah orang yang masih sehat apabila memperbesar rasa takutnya maka dia akan jauh dari perbuatan maksiat. Dan orang yang sedang sakit apabila memperbesar sisi harapnya maka dia akan berjumpa dengan Allah dalm kondisi berbaik sangka kepada-Nya. Adapun pendapat saya sendiri dalam masalah ini adalah: hal ini berbeda-beda tergantung kondisi yang ada. Apabila seseorang dikhawatirkan dengan lebih condong kepada takut membuatnya berputus asa dari rahmat Allah maka hendaknya ia segera memulihkan harapannya dan menyeimbangkannya dengan rasa harap. Dan apabila dikhawatirkan dengan lebih condong kepada harap maka dia merasa aman dari makar Allah maka hendaknya dia memulihkan diri dan menyeimbangkan diri dengan memperbesar sisi rasa takutnya. Pada hakikatnya manusia itu adalah dokter bagi dirinya sendiri apabila hatinya masih hidup. Adapun orang yang hatinya sudah mati dan tidak bisa diobati lagi serta tidak mau memperhatikan kondisi hatinya sendiri maka yang satu ini bagaimanapun cara yang ditempuh tetap tidak akan sembuh." (Fatawa Arkanil Islam, hal. 58-59)

BERIMAN KEPADA RASUL-RASUL ALLAH SWT

A. Pengertian
Beriman kepada rasul-rasul Allah adalah mempercayai bahwa Allah Swt telah mengutus beberapa rasul untuk menyampaikan risalah yang telah Allah swt tetapkan.
Perbedaan antara rasul dan nabi adalah jika seorang nabi hanya diberikan wahyu untuk dirinya sendiri, dan jika ada orang yang mengikutinya tidak ada salahnya. Sedangkan rasul adalah seseorang yang diberi wahyu oleh Allah selain untuk dirinya juga untuk disebarkan kepada seluruh umat manusia.

B. Tanda-tanda beriman kepada rasul Allah Swt
Orang yang yakin atau beriman kepada rasul-rasul Allah swt akan selalu patuh dan taat kepada apa yang disampaikan oleh rasul Allah Swt.
Mereka akan selalu menjauhi sikap dan perbuatan yang bertentangan dengan rasul itu sendiri.
Setiap rasul itu memiliki masa masing-masing, sehingga berlakunya ajaran satu rasul tergantung apakah sudah ada rasul selanjutnya atau belum. Akan tetapi kerasulan Muhammad saw merupakan rasul terakhir yang tidak aka ada lagi rasul setelah beliau (Muhammad saw). Oleh karena itu nabi-nabi palsu merupakan nabi yang patut dihentikan kegiatannya karena telah keluar dari Islam.

C. Sifat-sifat rasul
Setiap rasul mempunyai sifat yang baik yaitu sifat yang pasti ada pada dirinya. Diantara sifat-sifat rasul yang wajib ada adalah :
1. Fatonah, artinya cerdas
2. Amanah, artinya dapat dipercaya
3. Tabligh, menyampaikan segala yang telah disampaikan oleh Allah Swt
4. Sidik, artinya benar para rasul

D. Hikmah dan aplikasi
Dengan meyakini dan mengimani rasul-rasul Allah Swt, maka akan didapatkan beberapa hikmah dan manfaat :
- Telah melaksanakan rukun iman yang ke empat dan mendapatkan kebajikan
- Sampainya segala pesan Allah Swt kepada kita
- Dapat mencontoh sifat, sikap dan perbuatan rasul tersebut

AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG MENYANTUNI KAUM DU’AFA

Al Baqoroh : 26-27

"Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu . Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan : "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah , dan dengan perumpamaan itu banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi".


Al Baqoroh 177

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang-orang yang meminta-minta; dan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar ; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa".

Rabu, 21 Juli 2010

EKSISTENSI TAUHID DALAM KEHIDUPAN

Sebagai seorang Muslim, kita tentunya yakin dengan kepercayaan yang bulat, kokoh dan kuat, bahwa agama Islam yang kita anut ini, merupakan agama yang monotheisme, yang mengajarkan bahwa Tuhan itu Esa, Tuhan itu satu, Tuhan itu Tunggal. Tidak berbilang. Tidak dua, tidak tiga, tidak empat dan seterusnya.

Dokrin tauhid yang kita pelajari, kita hayati dan kita amalkan selama ini tentunya diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi kehidupan kita, terutama di dalam melaksanakan segala aktivitas sehari-hari, dengan satu sandaran yang kokoh, bahwa aktivitas yang kita laksanakan itu semata-mata hanya karena Allah SWT. dengan maksud dan tujuan semata-mata hanya ingin meraih Ridha Allah SWT.

Dengan demikian, sebagai konsekuensi dari konsep ini, pada gilirannya akan mencetak karakter agung, jujur, suci dan teguh memegang amanah. Dengan adanya tauhid dalam Islam merupakan kekuatan yang besar, yang mampu mengatur secara tertib segala macam aktivitas kehidupan seluruh manusia yang ada di permukaan bumi ini.

Sebagai ilustrasi dalam pembahasan tentang tauhid ini, kami ingin mengemukakan sebuah cuplikan sejarah di zaman khalifah Umar bin Khathab r.a.

Suatu ketika, khalifah Umar bin Khathab r.a bertemu dengan seorang anak gembala yang sedang menghalau sekawanan kambing di padang rumput. Kepada anak gembala tersebut Umar menanyakan, siapa pemilik kambing-kambing yang ia gembalakan tersebut. Sang anak menjawab dengan jujur bahwa kambing-kambing tersebut adalah milik majikannya. Kemudian Umar mencoba menawarkan jasa untuk membeli kambing tersebut satu ekor. “Sudilah wahai anak muda kamu menjualnya untuk saya, satu ekor saja”, kata Umar. Sang anak menjawab, “Maaf saya tidak bisa melakukannya, kecuali jika tuan berhubungan langsung dengan majikan saya sipemilik kambing-kambing ini”. Umar terus membujuknya, “Kan tidak apa-apa, cuma satu ekor koq. Lagi pula, majikanmu tidak akan mengetahuinya. Bilang saja nanti, kambing ter- sebut telah dimakan srigala”. Mendengar bujukan Umar ini, sang anak terdiam dan ia nampak berpikir. Dia berpikir bukan mau menjual kambing tersebut, atau menggunakan kesempatan di dalam kesempitan. Tetapi ia berpikir dan bingung terhadap sikap Umar yang menurutnya tidak pantas diucapkan oleh orang yang beriman. Akhirnya sang anakpun balik bertanya kepada Umar, “Kalau begitu”, katanya : “Fa-aina Allah?”, di mana Allah berada?”. Bagi Umar bin Khathab r.a pertanyaan yang demikian ini, kendatipun datangnya dari seorang bocah, seorang budak kecil. Walaupun pertanyaannya sangat pendek, sederhana dan polos, seperti layaknya seorang anak berta-nya. Namun demikian, bagi Umar cukup menggugah dan menggetarkan hati. Di balik pertanyaan singkat tersebut, sang anak seakan-akan berkata,“Memang”,katanya, “saat ini seolah saya yang memiliki kambing-kambing tersebut. Saya yakin, majikan saya akan mempercayai begitu saja alasan yang saya buat. Majikan saya dapat saya tipu. Dia tidak melihat apa yang saya lakukan di sini. Dia tidak akan tahu, sebab tak seorangpun yang melihatnya. Dia tidak mempunyai mata-mata buat menyelidiki/memantau aktivitas saya. Akan tetapi?,sang anak berpikir,”bagaimana mungkin saya dapat menipu Allah. Bukankah Allah itu Maha Melihat yang tentunya tahu apa yang saya lakukan”.

Terhadap kejadian ini, maka tidak heran jika Umar bin Khathab r.a ketika itu sempat mencucurkan air mata, lantaran terharu menyaksikan teguhnya keimanan sang anak gembala. Lantaran itu, pada kesempatan lain beliau temui anak tersebut dan mengajak untuk menemui sang majikan untuk memerdekakannya dari perbudakan, sehingga terbebaslah sang anak ini dari belenggu perbudakan.

Demikianlah contoh pengaruh atau dampak yang ditimbulkan oleh adanya tauhid yang kuat. Ia dapat membentuk pribadi seseorang menjadi pribadi yang militan dan terpuji. Tak peduli apakah oleh kalangan atas, kalangan menengah maupun kalangan bawah. Tidak peduli anak- anak maupun orang dewasa.

Tauhid yang kuat dapat membebaskan manusia dari seribu satu macam belenggu kejahatan duniawi. Dengan tauhid yang kuat dapat membebaskan manusia dari penjajahan, perbudakan dan penghambaan, baik oleh sesama manusia maupun oleh keganasan hawa nafsu. Dengan jiwa tauhid yang tinggi seseorang akan bebas dari berbagai belenggu ketakutan dan duka cita, baik dalam kemiskinan harta, kemiskinan jabatan, kemiskinan kedudukan dsb. Dengan jiwa tauhid yang tinggi seseorang akan bebas dari berbagai kemelut keluh kesah, kebingungan dan rasa putus asa. Dengan tauhid yang tinggi. seorang muslim akan memiliki jiwa besar, tidak berjiwa kerdil. Kenapa demikian?, karena dengan tauhid yang tinggi akan memberikan dampak terhadap keikhlasan seseorang, yang selalu menyandarkan dirinya semata-mata hanya kepada Allah, hanya untuk Allah. Shalatnya, ibadahnya, sepak terjangnya sehari-hari, bahkan hidup dan matinya, hanya semata-mata dipersembahkan kepada Allah rabbul ‘alamin, sehingga ia tidak akan tertarik atau terpengaruh sedikitpun terhadap buaian-buaian duniawi dan tidak akan memperdulikan kepahitan hidup duniawi.

Dari uraian ini, dapatlah kita simpulkan bahwa tauhid merupakan kepercayaan mutlak tentang keesaan Allah SWT. yang berurat berakar dalam hati sanubari muslim dan merupakan cerminan untuk mengukur tingkat keikhlasan seseorang dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini.


Senin, 19 Juli 2010

AYAT-AYAT AL-QUR'AN TENTANG MANUSIA DAN TUGASNYA SEBAGAI KHALIFAH

A. SURAH AL-BAQARAH : 30
1. Bacaan surah Al-Baqarah Ayat 30

Artinya : “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah : 30)
2. Isi Kandungan
Ada beberapa isi kandungan Surah Al-Baqarah ayat 30, yaitu :
a. Khalifah adalah manusia sebagai makhluk Allah yang sempurna dan memiliki potensi, diantaranya hawa nafsu, pendengaran, penglihatan, hati/perasaan, penciuman, akal pikiran, mulut, tangan, dan kaki.
b. Fungsi khalifah di muka bumi yaitu sebagai berikut :
- Menjadi pemimpin.
- Menyejahterakan dan memakmurkan bumi.

Praktik Baik "Pemanfaatan Portal Rumah Belajar dalam Inovasi Pembelajaran pada Tatap Muka Terbatas"

Pandemi masih melanda Negeri ini, Dunia Pendidikan ikut mendapat imbasnya. Sejah awal tahun 2020 Pembelajaran Tatap Muka berubah menjadi Pem...