Sekalipun musim haji telah lewat, tak ada salahnya kita mengupas kembali sejarah perjuangan Siti Hajar, salah seorang pelaku utama drama pengorbanan yang ditapaktilasi jutaan manusia setiap tahun. Karena perjuangannya, wanita sederhana ini mendapat kemuliaan yang teramat tinggi di sisi Allah Swt, dengan keberadaan air Zam-zam yang berkhasiat maupun dijadikannya sa'i sebagai rukun haji.
Sungguh, ini adalah penghargaan yang tiada tara bagi seorang wanita. Layaklah bila kita penasaran dibuatnya. Selain mengenangnya melalui prosesi ibadah haji, apa lagi keteladanan yang bisa kita petik dari kepribadian Siti Hajar?
1. Keyakinan akan pertolongan Allah
Ketika Ibrahim mengajak Hajar pergi dari rumah bersama bayi mereka Ismail, Hajar belum mengetahui tujuan kepergian itu. Semuanya baru menjadi jelas setelah mereka sampai di tengah-tengah gurun pasir tandus dan Ibrahim menurunkan Hajar dan Ismail dari untanya. Di bawah terik sinar matahari yang panas menyengat, di antara pasir dan batu seluas mata memandang, wanita mana yang tak takut ditinggal sendirian di sana? Bukankah ini sama artinya dengan bunuh diri? Sangat manusiawi, jika kemudian Hajar bertanya, “Apakah ini perintah Allah?” Nabi Ibrahim as pun mengangguk dan membenarkannya.
Melihat anggukan kepala suaminya, barulah hati Hajar merasa tenang. Jika itu perintah Allah, ia yakin diri dan bayinya akan selamat. Ia yakin bahwa pertolongan Allah akan segera datang menyelamatkan mereka. Maka tanpa banyak bertanya lagi, ia pun melepas suaminya pergi.
Sendiri di tengah padang pasir tak berpenghuni, secara rasional tak mungkin akan menyelamatkan hidup seorang wanita lemah bersama bayinya. Namun, tak peduli betapa kecilnya kemungkinan itu, Hajar tetap optimis. Keyakinan yang amat kuat itu membuatnya tidak emosional, dan mampu berpikir jernih untuk mencari tempat perlindungan sekadarnya.
2. Pantang putus asa
Bekal makanan dan minuman telah habis, belum ada sesuatu yang terjadi. Pertolongan Allah belum datang. Namun Hajar belum putus harapan. Berbekal keyakinan yang kuat akan datangnya pertolongan Allah suatu waktu nanti, ia merasa harus berusaha berbuat sesuatu.
Mencari air? Rasanya mustahil. Namun, karena Hajar tak melihat alternatif usaha lain yang lebih baik, maka ia berdiri untuk mulai mencari air. Beberapa kali ia terkecoh oleh fatamorgana sehingga ia bolak-balik menaiki bukit Shafa dan Marwa hingga tujuh kali. Jika Hajar hanya berniat mencari air, mungkin ia telah lama berhenti berlari dari bukit ke bukit, karena tahu di sana tak ada air. Ia faham bahwa yang ia lihat hanya fatamorgana.
Tetapi yang dicari Hajar adalah pertolongan Allah, yang itu bisa berupa air, atau mungkin dalam bentuk yang lain. Sekali lagi karena tak ada alternatif yang lebih baik untuk bisa dilakukan kecuali berlari mencari air, maka terpaksa pekerjaan ini yang terus ia lakukan. Hebatnya, Hajar tetap belum berputus asa dalam hitungan langkahnya yang sudah ke angka puluhan kilometer itu. Dan Allah menghadiahi usaha kerasnya itu dengan satu mukjizat, air Zam-zam! Andaikan Hajar hanya duduk bersimpuh di samping bayinya sambil merintih dan berdoa, belum tentu air Zam-zam akan dihadiahkan Allah kepadanya.
Bagaimana dengan kita? Sudahkah tekad kita untuk berusaha sekuat dan setegar Hajar, yang tiada putus asa walaupun harapan hidupnya hanya 0,01%? Hajar yang terus berbuat sesuatu walaupun secara logika tak akan ada hasilnya?
3. Taat, tak banyak protes
Perintah Allah yang aneh kepada suaminya untuk mengasingkan dirinya, sama sekali tak membuat Hajar mengingkari keimanannya kepada Allah Swt. Tak sempat terlintas prasangka-prasangka buruk terhadap Allah. Dengan ikhlas ia terima perintah Allah, dan ia pun merasa tak perlu bertanya lebih banyak kepada Nabi Ibrahim as, apalagi untuk menentangnya.
Ketaatan kepada Allah telah ia letakkan lebih tinggi di atas segalanya, bahkan lebih tinggi daripada kecintaan kepada kehidupannya sendiri.
4. Ibu sekaligus ayah yang berhasil
Setelah meninggalkan istri dan anaknya di tengah padang pasir tak berpenghuni, Ibrahim tak lagi pernah ke sana untuk menengok mereka, apalagi untuk turut mendidik Ismail, anaknya. Ibrahim as hanya kembali ke tempat tersebut bertahun-tahun kemudian, ketika di tempat dahulu ia menurunkan Hajar telah terbangun perkampungan Makkah dengan air Zam-zam sebagai urat nadi kehidupannya.
Saat itulah pertama kali Ibrahim bertemu kembali dengan Ismail yang telah mulai menginjak dewasa. Sekian lamanya ibunda Hajar telah membanting tulang menghidupi dan mendidik anak ini dengan tangannya sendiri. Untuk sekian lamanya Hajar telah berhasil berperan sebagai the single parent (orang tua tunggal).
Keberhasilan Hajar mendidik Ismail menjadi anak shalih tampak jelas dalam bentuk kepribadian Ismail yang amat luhur. Ismail berakhlaq baik dan sangat menghormati ayahandanya yang belum pernah ia temui sebelumnya. Dan terbukti, Ismail menunjukkan keutamaan imannya ketika ia dengan ikhlas mengiyakan permintaan Ibrahim yang diperintah Allah Swt untuk menyembelihnya.
Tak ada riwayat yang mengisahkan bagaimana cara Hajar mendidik anaknya ini sehingga bisa membentuk kepribadian unggul seperti ini. Namun setidaknya kita bisa meneladani bahwa keyakinan Hajar akan datangnya pertolongan Allah, usaha keras, serta ketaatannyalah yang telah banyak berperan dalam hal ini.
Gambar Slide
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Praktik Baik "Pemanfaatan Portal Rumah Belajar dalam Inovasi Pembelajaran pada Tatap Muka Terbatas"
Pandemi masih melanda Negeri ini, Dunia Pendidikan ikut mendapat imbasnya. Sejah awal tahun 2020 Pembelajaran Tatap Muka berubah menjadi Pem...
-
Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah SURGA. Di dalamnya terdapat bejana-bejana d...
-
Ibadah haji merupakan ibadah fisik, namun demikian banyak makna baik yang tersirat maupun yang tersurat yang bisa kita ambil dalam pelaksana...
-
SELEKSI BEASISWA DAN NON BEASISWA PROGRAM S1 UNIV. AFRIKA INTERNASIONAL SUDAN DAN UNIV. AL-AZHAR MESIR TAHUN AKADEMIK 2012-2013 A. Lat...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar